My Jesus My Lord

Home

My Testimony

Photos

TV Interviews

Testimony in Hungarian

Testimony in Indonesian

New Life

The Father's Love Letter

Contact Us

Jesus told him, "I am the way, the truth, and the life. No one can come to the Father except through Me." John 14:6 NLT

HIDUP SAYA SEBELUM JESUS…
I grew up in Michigan in a family of 14 children.  My parents had 9 boys and 5 girls.  We grew up in the church.  When I was in 5th grade I heard the message that Jesus was knocking on the door of my heart and wanted to come in and would I let Him in?  Yes, I accepted Jesus.  I really felt Him come into my heart.  Although I had received Jesus, I didn't understand what the cross was all about because I hadn't really understood sin.  In my early years, I experienced sexual abuse, 4 local teenage boys sexually abused me from the 3rd grade until the 7th grade.
Saya besar di Michigan dengan 14 saudara. Orang tua saya memiliki 9 anak laki-laki dan 5 anak perempuan. Ketika saya di tingkat 5, saya mendengar Yesus mengetuk pintu hati saya dan Ia ingin masuk, apakah saya mengijinkannya? Ya, saya terima Yesus dan saya dapat merasakan Ia masuk ke dalam hati saya. Meskipun saya telah menerima Yesus, saya tidak mengerti apa itu SALIB karena saya juga tidak terlalu mengerti apa itu dosa. Saat masih kecil saya mengalami penyiksaan seksual dari tingkat 3 sampai tingkat 7 (setara SD) oleh anak-anak laki di lingkungan saya.
 
          In my teenage years, I began drinking and drugging.  After barely graduating from high school, I shared an apartment with a girl from high school who introduced me to the night club scene.  So we began to frequent the clubs.  The clubs played alternative music which was "new" then and it attracted some really strange looking people, as well as bisexuals and homosexuals.  Due to my sheltered upbringing, I had really never met anyone gay, until then.  As I continued to go to these clubs, the influence of the people, and the music, took me on a path that almost cost me my life.  I began doing cocaine with my live-in boyfriend.  Somehow in all that mess, I ended up moving closer to Detroit and that was where my real trouble began.  Proverbs 1:10  My son,  if sinners tempt you,  don't give in to them.  
Saat beranjak remaja, saya mulai minum-minum dan memakai obat-obatan. Setelah lulus, saya berbagi apartemen dengan seorang teman SMA yang memperkenalkan saya ke dunia malam. Kami mulai sering mengunjungi klab-klab malam. Klab memainkan alternatif musik yang relatif baru pada masa itu dan musik tersebut menarik minat orang-orang yang berpenampilan aneh termasuk biseksual & homoseksual. Selama hidup, saya belum pernah benar-benar bertemu dengan seorang homoseksual. Dan saya terus menerus ke klab-klab ini, terpengaruh oleh orang-orang disana, juga musik alternatif, yang akhirnya membawa saya ke jalan yang hampir menghabiskan nyawa saya. Saya mulai memakai kokain dengan pacar saya. Dan dalam seluruh kekacauan itu, akhirnya saya pindah ke Detroit dan disanalah masalah sebenarnya dimulai. Amsal 1:10 Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut

          I worked as a nursing assistant at the hospital and had rented an apartment, away from my live-in boyfriend, due to his alcoholism.  A few months after having my own apartment, I got back together with my ex-boyfriend.  One day, my boyfriend brought our next door neighbors up for a drink.  They were a punk couple about my age.  The girl's name was Candi and the guy's name was Brent.  Candi had a super short hair cut and no eyebrows.  She told me she had shaved them off for a photo shoot.  Brent had a pink mohawk and was talking to my boyfriend about cutting up human cadavers!  Candi told me about the club that she worked at as a female bouncer.  It was an underground punk club that wasn't advertised in the local club paper.  I had heard of it before, but had never been there.  She invited me to come and check it out, so I went one night after work. 
Saya bekerja sebagai asisten perawat di sebuah rumah sakit dan menyewa apartemen yang jauh dari pacar saya yang dulu karena dia seorang pemabuk berat. Beberapa bulan setelah memiliki apartemen sendiri, saya kembali menjalin hubungan dengan mantan saya tersebut. Suatu hari, pacar saya membawa tetangga sebelah apartemen kami untuk minum-minum. Mereka adalah pasangan punk dengan umur tidak jauh berbeda dari saya. Yang perempuan bernama Candi dan yang laki-laki bernama Brent. Candi memiliki rambut yang amat sangat pendek sekali dan tanpa alis. Dia berkata bahwa ia telah mencukur alisnya untuk kebutuhan syuting photo. Brent memiliki rambut mohawk berwarna merah muda dan sibuk berbicara tentang cara memotong mayat manusia dengan pacar saya! Candi bercerita tentang klab dimana ia bekerja sebagai wanita tukang pukul. Itu adalah klab punk bawah tanah yang tidak pernah diiklankan di koran lokal manapun. Saya pernah mendengar sebelumnya tapi belum pernah berkunjung kesana. Dia mengundang saya untuk datang melihat-lihat, jadi saya pergi pada suatu malam sesudah pulang kerja.

          I followed the directions which led me to a high rise hotel in a seedy part of town.  The entrance to the club was in the back; I opened the heavy black iron door, and climbed the stairs.  I could hear the thump of music, the walls and stairs were painted black and it was dimly lit on the staircase.  I came to another door and opened it.  I saw a huge man who was wearing makeup and was all dressed in black and sitting next to him was my next door neighbor!!!   She was wearing full makeup and looked much different from our first encounter.  I was scared.  They were the only two in this little room before entering into the main club.  Their job was to frisk anyone who came in the club; they were looking for guns, drugs, alcohol or weapons.  So she frisked me.  Sheepishly I entered the club, everything was painted black; there were not that many people there yet because it was too early!!!  I went up to the bar and turned around and noticed a huge mural of the Last Supper.  I didn't realize what that meant at the time but found out later that this club was a haven for witches and warlocks. 
Saya mengikuti instruksi yang kemudian membawa saya ke sebuah bangunan hotel tinggi di kawasan kumuh kota. Pintu masuk ke dalam klab ada di belakang. Saya membuka pintu besi berat yang berwarna hitam dan mulai menaiki tangga. Saya bisa mendengar dentuman musik, dimana dinding dan tangga dicat berwarna hitam dan penerangan di tangga sangat remang-remang sekali. Saya menemukan pintu lain dan membukanya. Saya melihat laki-laki yang sangat besar sekali dan menggunakan make-up serta berpakaian serba hitam. Duduk di sebelahnya tetangga saya itu, Candi!!! Dia menggunakan make up and terlihat sangat berbeda dari pertemuan pertama kami. Saya sangat takut. Hanya mereka berdua dalam ruangan sekecil ini sebelum memasuki klab utama. Tugas mereka adalah menggeledah siapapun yang datang ke klab membawa pistol, narkoba, alkohol atau senjata lainnya. Jadi dia menggeledah saya. Dengan perasaan malu, saya memasuki klab. Semua dicat hitam dan belum terlalu banyak orang disana karena hari masih dianggap terlalu pagi!! Saya pergi ke bar dan melihat lukisan dinding Perjamuan Terakhir yang besar sekali. Saya tidak menyadari artinya saat itu sampai akhirnya baru diketahui bahwa klab tersebut adalah tempat perlindungan bagi para penyihir.

          I continued going to this club on a weekly basis and over time my looks changed.  I ended up shaving my head completely bald, piercing my nose with a safety pin and getting tattoos.  My heart became hard, and things I never thought I would do I began doing. Candi got me a job working as a female bouncer in the club.  It was during this time in my life that I began to experience violence and power.  Candi had taken me under her wing and brought me into the group of people that ran the club.  Fights were part of the scenery there and they were welcomed.  Candi was small, scrappy, and mean.  She was used to fighting and somehow never got hit, but did a lot of damage.  She also, had a notable presence about her, and at times I wondered if it was demonic.  This magnetism she had was unlike anything I'd ever seen or experienced.  She had swarms of people around her at all times and they all seemed to be "in love" with her.  I also saw people bow down to her.  Sometimes, she would look at me in the eyes and I would get really confused, my eyes would water and I would do whatever she asked of me. 
Saya berlanjut mengunjungi klab ini setiap minggu dan seiring waktu penampilan saya berubah. Saya berakhir dengan menggunduli kepala saya, menindik hidung saya dan membuat tato. Hati saya semakin keras, dan segala hal yang saya pikir tidak akan pernah saya lakukan mulai saya lakukan. Candi memberi saya pekerjaan sebagai tukang pukul wanita di klab. Selama masa ini saya mengalami kekerasan demi kekerasan. Candi membawa saya di bawah pimpinannya dan memperkenalkan saya ke grup yang menjalankan klab tersebut. Perkelahian adalah pemandangan sehari-hari disana dan itu diperbolehkan. Candi itu berbadan kecil, tidak sempurna dan kejam. Dulu ia selalu berkelahi tapi entah bagaimana ia tidak pernah kena pukul, tapi bisa menyebabkan begitu banyak kerusakan. Dia juga memiliki aura yang kadang membuat saya berpikir apakah itu aura jahat. Daya tarik yang ia miliki tidak seperti yang pernah saya lihat atau alami sebelumnya. Ia memiliki kawanan orang yang selalu mengerumuninya tiap waktu dan mereka terlihat sangat memujanya. Saya juga melihat orang-orang membungkuk hormat kepadanya. Kadang ia melihat langsung ke dalam mata saya dan saya mulai menjadi bingung, mata saya akan berair dan saya akan menuruti apapun yang ia minta.

    During my friendship with Candi, she took me to some New Age bookstores.  My mom had always warned us of these book stores, telling us that they were of the devil and had forbidden us from ever going into them.  Well, now that I was on my own, I didn't have to listen to her anymore.  I remember whenever I would walk into of one of these stores I would sense something.  What I didn’t know at the time was, I was sensing evil spirits.


Selama persahabatan saya dengan Candi, dia membawa saya ke toko buku Ajaran Baru. Ibu saya selalu mengingatkan bahwa toko-toko buku ini adalah ajaran iblis dan melarang kami untuk pergi kesana. Karena sekarang saya sudah sendiri, saya tidak perlu mendengar ibu lagi. Saya ingat sewaktu saya berjalan memasuki toko-toko buku ini, saya bisa merasakan sesuatu. Saya tidak tahu apa pada saat itu, saya hanya merasakan roh-roh jahat.

Over the course of time, my employment went from a nursing assistant to exotic dancer.  Candi and I danced for money for two years in Detroit.  It was at this time that we became lovers.  In our first months together she mentally and emotionally abused me, weaving a lie that would take us to Hollywood, California.  Her dream was to be rich and famous and convinced me that it was possible.  I believed everything she told me.  So we packed up our things, sold our belongings and moved to California.  We took two other people with us, one was another lesbian named Sophie, who was to be our body guard and the other was a straight, Sicilian guy named Frank, who funded everything.
Waktu berjalan, pekerjaan saya berpindah dari asisten perawat menjadi penari seksi. Candi dan saya menari untuk uang selama 2 tahun di Detroit. Pada saat itulah kami menjadi sepasang kekasih. Selama awal-awal kami berhubungan, dia menyiksa saya secara fisik maupun mental, menenunkan kebohongan akan membawa kami ke Hollywood, California. Mimpinya adalah menjadi kaya dan terkenal dan ia menyakinkan saya bahwa itu semua sangatlah mungkin. Saya percaya apapun yang dia katakan. Jadi kami memberesi barang-barang kami dan menjualnya serta pindah ke California. Kami membawa 2 orang lagi bersama kami, yang satu adalah lesbian bernama Sophie, dulu pernah menjadi body guard kami dan yang lainnya adalah laki-laki Sicilia bernama Frank, yang mendanai semuanya.
   
In 1994, the four of us arrived in Hollywood on a one way ticket.  The shuttle from the airport dropped us off on Hollywood Blvd. and Labrea Ave.   Hollywood Blvd. is the street where all the stars have their names on the sidewalk.  We had no place to live, no car, no job and no prospects of anything.   So with our 12 suitcases we camped out in a motel for a month.
Tahun 1994, kami berempat tiba di Hollywood dengan tiket satu arah. Bis dari airport menurunkan kami di Hollywood Blvd and Labrea Ave. Hollywood Blvd adalah sebuah jalan dimana setiap bintang memiliki nama mereka di trotoar. Kami tidak memiliki tempat tinggal, mobil, pekerjaan dan prospek lainnya. Jadi dengan 12 koper, kami tinggal di motel selama sebulan.
  
          One night, while still living at the motel, Candi wanted to go up into West Hollywood to check out the gay scene.   West Hollywood is a gay city.  When you drive through the city you can see the gay flag waiving. (it is a rainbow flag)  The flags are hanging up and down the center of Santa Monica Blvd.  There are gay shops and gay and lesbian bars and clubs.  West Hollywood is home to the largest lesbian club in America called Girl Bar.
Suatu malam, ketika masih di motel, Candi ingin pergi ke Hollywood Barat untuk melihat-lihat kehidupan homoseksual disana. West Hollywood adalah kota homoseksual. Kalau anda berkendara melewati kota tersebut, anda akan melihat bendera homoseksual melambai. (itu adalah bendera pelangi). Bendera-bendera tersebut digantung di pusat Santa Monica Blvd. Disana ada toko dan bar untuk para homoseksual. Hollywood Barat adalah surga bagi klab lesbian terbesar di Amerika, biasa disebut Girl Bar.

          Candi had an objective in mind and it was to find out "who was who."  So, we left the other two in the motel room and set out for West Hollywood.  We didn’t have a car yet, so we  had to walk a few blocks and then catch a bus.  I had no idea that Hollywood was a dangerous city.  It was around 11 pm and chilly, so, we both wore our biker leathers.  We were dressed in all black; both of us were wearing baseball hats and combat boots. (We looked like two guys.)  As we headed toward Santa Monica Blvd., two guys at a pay phone noticed us as we passed by them.  The guy at the pay phone immediately slammed down the receiver.  Both guys started to walk behind us with intent in their steps.  I knew they were going to do something, and Candi seemed to sense it too.  Our conversation had stopped as we pretended everything was okay.   I could feel my heart pounding so loudly.  I grasped the chain that was in my pocket and thought of slamming one of them in the face, but I was way too scared. 


Candi memiliki satu tujuan dalam pikirannya yaitu mencari tahu “siapa yang berpengaruh”. Jadi kami meninggalkan Sophie & Frank di motel dan pergi ke Hollywood Barat. Kamu belum memiliki mobil, jadi kami harus jalan beberapa blok baru menaiki bis. Saya tidak tahu bahwa Hollywood adalah kota berbahaya. Saat itu sudah jam 11 malam dan sangat dingin jadi kami mengenakan jaket dan celana kulit. Kami berpakaian serba hitam; dan kami berdua menggunakan topi baseball dan sepatu boot kombat. (Kami mirip laki-laki). Saat kami menuju Santa Monica Blvd, 2 laki-laki di telpon umum menyadari pas kami lewat. Lelaki yang di telpon umum segera membanting telponnya dan mulai berjalan mengikuti kami dengan maksud tertentu. Saya tahu mereka bermaksud melakukan sesuatu dan tampaknya Candi juga merasakannya. Percakapan kami terhenti dan kami berpura-pura bahwa semua baik-baik saja. Jantung saya berdebar kencang sekali. Saya mengenggam erat rantai dalam saku saya dan berpikir untuk menghajar salah satu wajah mereka, tapi saya sangat takut sekali.

          We continued to walk; they continued to pursue about a foot behind us.  I felt the hair on the back of my neck standing straight up as my mind went blank.  Then, out of my heart I prayed these words, "Lord, please help!"  As soon as the words left my heart, a blast of heat came in between us and the two guys!!!!!!!!!!!!!!!!  I felt the heat go down the back of my legs.  The two guys turned from following us and veered off into the parking lot.  We continued to walk, I was stunned, not saying a word.  Candi broke the silence and asked, "Did you feel that heat?!!"  I exclaimed "YES!!!!!"  I told her that I had prayed and so both of us thanked God.  Two radical lesbians walking down the street thanking God!!!
Kami melanjutkan berjalan, dan mereka sudah amat sangat dekat sekali dengan kami. Saya merasa bulu kuduk saya berdiri dan pikiran saya kosong. Lalu dalam hati saya berdoa,”Lord, please help!”. Segera setelah saya selesai mengucapkan kalimat ini, kilatan panas datang di antara kami dan laki-laki tersebut. Saya merasakan kilat panas itu turun ke belakang lutut saya. Kedua lelaki tersebut berhenti mengikuti kami dan berbelok menuju tempat parkir. Kamu melanjutkan berjalan, saya terdiam, tidak mengucapkan sepatah katapun. Candi memecah kesunyian dan bertanya, “Apakah kamu merasakan panas tersebut?”. Saya berseru “YA!!!!”. Saya berkata padanya bahwa saya telah berdoa jadi kami berdua berterima kasih kepada Tuhan. Dua radikal lesbian menyusuri jalan sambil mengucap syukur!!

          When I was a child my Mom taught us this Scripture, "Whosoever calls upon the Name of the Lord shall be saved."  Joel 2:32a   She said we could call on Jesus' Name in any kind of dangerous situation and that He would help us, she was right, God had heard my cry.   Needless to say this didn't cause me to ask God for forgiveness for my sins because I had chosen to believe a lie and thought I was okay with God and that I didn't need to be forgiven.  In my mind, when God answered that prayer, I was so sure that I was on the right path.
   
Time passed, as we pursued "who is who" in the gay night life.  We ended up meeting women from all walks of life in Hollywood, from executives to actresses, producers to musicians, even some movie stars.  We were over our heads in "who is who."  The night life in Hollywood was much different from Detroit.  Hollywood was a 'movie,' nobody was real, if they hated you, you never knew it because they acted like they loved you.  Acting wasn't just for the movie screen.  In Detroit, if they hated you they told you and you fought about it.
Ketika saya kecil, Ibu saya mengajarkan Kitab Suci ini “ Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan” Yoel 2:32a. Dia berkata kita bisa memanggil nama Yesus di situasi berbahaya manapun dan Ia akan menolong kita. Ibu saya benar, Tuhan telah mendengar tangis saya. Walau seperti ini, itu tidak membuat saya meminta kepad Tuhan untuk pengampunan karena saya telah memilih untuk mempercayai kebohongan dan merasa saya baik-baik saja dengan Tuhan dan saya tidak butuh diampuni. Di dalam pikiran saya, ketika Tuhan menjawab doa itu, saya merasa sangat yakin sekali bahwa saya di jalan yang benar.
Waktu berlalu selama kami mecari siapa saja yang berpengaruh di dunia homoseksual. Kami bertemu dengan berbagai macam wanita di seluruh Hollywood, dari eksekutif sampai aktris, produser sampai musisi, bahkan beberapa bintang film. Kehidupan malam di Hollywood sangat berbeda dari Detroit. Hollywood adalah sebuah “drama”, todak ada seorangpun yang nyata. Jika mareka membencimu, kamu tidak akan pernah tahu karena mereka akan berakting seperti mereka menyayangimu. Akting bukan hanya di film layar lebar saja. Sedangkan kalau di Detroit, kalau mereka membencimu, mereka akan mengatakan padamu dan kami akan berkelahi mengenainya.
 
          We were in some movies as extras and also on TV as extras. (I was in the movies Virtuosity, Money Train, The Crow Part 2, Divas and on the TV shows ER and 90210)   Candi ended up with a speaking role on 'America's Most Wanted.'  She played a punk, lesbian, heroine addict who had ended up robbing banks to support her addiction.  The strangest part of all was that we had known the girl in Detroit and she had attended our going away party!!!!!  The show aired and they caught the girl!!!
Kami main di beberapa film sebagai ekstra dan juga TV sebagai ekstra. (saya pernah bermain di film Virtuosity, Money Train, The Crow Part 2, Divas dan the TV Shows ER & 90210). Candi berakhir sebagai orang yang berbicara peran di “America’s Most Wanted”. Dia memainkan punk, lesbian, pecandu narkoba yang merampok bank untuk mendukung ketagihannya terhadap narkoba. Yang paling aneh adalah kami mengetahui salah satu wanita di Detroit dan ia menghadiri pesta kepergian kami waktu itu. Pertunjukan ditayangkan dan mereka menangkap wanita tersebut.

          Hollywood had so many 'important' people and yet it was such a shallow and empty place.  I remember wanting to have a real conversation with someone.  I wanted to talk to a real person but everyone had to have their "image."  They couldn't let you see that they were longing for the same kind of thing too.
Hollywood memiliki begitu banyak orang penting tapi sangat dangkal dan kosong. Saya ingat saya ingin memiliki pembicaraan serius dengan seseorang, Saya ingin berbicara dengan orang yang sesungguhnya tapi tiap orang memiliki “image’ yang harus dijaga. Mereka tidak akan menampakkan kepadamu bahwa mereka juga menginginkan pembicaraan yang sama.
 
          One night, while returning home from a club, we walked from the parking garage into the lobby to take the elevator up to our floor.  Also waiting, was a couple who lived on our floor.  One thing I knew about her was that she was a crack addict.  A few moments pass and then, without any warning, her boyfriend grabs Sophie, our bodyguard, and throws her into the open elevator and begins to pound her in the face.  He is screaming, "You $@#% Dyke  $%$% Dyke!!!.  His girlfriend is screaming "Stop it!!! Stop it!!!!"
Satu malam, saat kembali ke rumah dari sebuah klab, kami berjalan dari garasi parkir ke lobi untuk menaiki lift menuju lantai kami. Sama-sama menunggu, sepasang kekasih yang tinggal di lantai yang sama dengan kami. Satu hal yang saya tahu adalah wanita itu pecandu narkoba. Beberapa saat berlalu dan tanpa peringatan apapun, pacar wanita tersebut merenggut Sophie, body guard kami, melemparkan dia ke dalam elevator dan mulai meninju wajahnya. Dia berteriak, “Kamu lesbian 78^&%^$^#%$#!!!”. Si wanita berteriak “Hentikan! Hentikan!”

          Candi jumped into the elevator to help.  I was left outside of the elevator, stunned.  Everything had happened so fast.  As I watched the blood coming down Sophie’s face,  I decided that I needed to help too, so I dropped my things and put myself right in the midst of the violence.  I got pushed up against the side door and my elbow hit the button for the basement.  The elevator doors closed, the man doing the punching, punched me in the face twice.  It hurt!!!  I didn't like this side of violence!  Candi managed to make it through the fight without getting punched.   The elevator began to go down to the sub-basement.  The doors opened and we all piled out into a little room.  Nobody was around.  The man who had assaulted us was the last one out of the elevator.  He reached into his back pocket and looked at me dead in the eye and said, "I'm going to kill you."  He looked at Candi and said, "I'm going to kill you," he looked at Sophie and said, "I'm going to kill you," I knew this guy wasn't kidding.  Again I prayed these words, "Lord, please help!" 


Candi melompat ke dalam lift untuk menolong. Saya berdiri di luar elevator, terdiam. Semua terjadi begitu cepat. Sewaktu saya lihat darah mengalir dari wajah Sophie, saya memutuskan bahwa saya perlu menolong juga. Jadi saya letakkan barang-barang saya dan meletakkan diri saya di tengah perkelahian. Candi berhasil melewati perkelahian itu tanpa mendapat tonjokan. Lift mulai menuju lantai bawah tanah. Pintu lift terbuka dan kami menumpuk keluar ruangan kecil. Laki-laki tersebut meraih saku belakang dan melihat kepada saya dan berkata “ Saya akan membunuhmu.” Dia melihat ke Candi juga dan berkata, “Saya akan membunuhmu,” Dia melihat ke Sophie dan berkata “Saya akan membunuhmu,”. Saya tahu laki-laki ini tidak bercanda. Sekali lagi saya mengucapkan doa ini, “ Tuhan, tolong!”

          As soon as the words left my heart, the man extended his hand to me and said, "I'd like you to accept my apology."  I was absolutely stunned.  We were all unsure as to what to do as he continued to hold out his hand to us.  Finally, Candi said, "I'm not shaking your hand!"  We all got  back into the elevator with this guy!!!!  A great peace came into the elevator as we went up to our floor.  Not a word was spoken on the ride up.  I think we were all still in shock.   When we had gotten back into our apartment, I told them that I had prayed.  
Begitu kalimat tersebut meninggalkan hati saya, laki-laki tersebut mengulurkan tangannya kepadaku dan berkata, “Saya harap kamu memaafkan saya.”. Saya benar-benar terpana. Kami tidak yakin apa yang harus kami lakukan dan ia tetap mengulurkan tangannya kepada kami. Akhirnya Candi berkata,” Saya tidak akan menjabat tanganmu!”. Kami semua kembali ke dalam lift bersama dengan laki-laki ini!!! Damai sejahtera masuk ke dalam lift saat kami semua bersama naik ke atas. Tidak sepatah katapun terucap. Saya rasa kami semua masih kaget. Ketika kami kembali ke dalam apartemen, saya katakan pada mereka bahwa saya telah berdoa.

          Again, the Lord had answered a small prayer from a lost girl.  He was drawing me unto Himself, showing me He was Faithful to His Word and to His Name.  Jeremiah 31:3  The Lord appeared to us in the past. He said,  "I have loved you with a love that lasts forever.  I have kept on loving you with faithful love."
Sekali lagi, Tuhan telah menjawab doa dari anak yang terhilang. Dia menarikku kepadaNya, menunjukkan kepadaku Ia setia dengan perkataanNya dan namaNya.
Yer 31:3 Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

   
A letter came in the mail from my sister Rachel.  She was attending Calvary Chapel Bible College in the mountains about two hours from me.  She had come to know Jesus as her Lord and Savior and sent the same letter to everyone in our family saying,  “Just because you grew up in a Christian home does not mean that you are a Christian!”  I was furious!!!!!  How dare she tell me that I was not a Christian!!!!!!  So, Candi, Sophie and Frank all joined me as I went to pay my sister a visit to tell her what I thought of her letter.  Upon arriving on campus, Candi began to say, "This is a cult, this is a cult."  So, I believed her.  We walked toward a bunch of students who were all sprawled out on the lawn reading.  They all noticed us and began to whisper among themselves.  They soon found out that I was related to Rachel and went to find her.   She came be bopping toward us with her guitar in tow.  She was so happy to see me and gave us all a hug.  She joyfully introduced us to her classmates who were not too sure what to think of us.  Then we went with Rachel to sit by the lake and eat some sandwiches.  She asked if we would like to hear her new songs.  We said,  “Sure.”  She begins to play songs about Jesus!!!  I could have jumped out of my skin it bothered me so much.  So I asked her to please stop playing so many songs about Jesus and to be normal.  She began to belt out another song about Jesus.  Finally, I said to her, "Why can't you just be normal?  Why does everything have to be about Jesus?" (Funny how I had gone to convince her that I was a Christian but couldn’t stand to hear songs sung about Jesus!!)


Sebuah surat datang dari saudara perempuanku, Rachel. Dia bersekolah di Akademi Calvary Chapel Bible di daerah pegunungan sekitar 2 jam perjalanan dari tempat saya. Dia telah mengetahui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Penyelamat dan mengirim surat yang sama depada semua orang di keluarga kami dan berkata, “Hanya karena kamu besar di rumah keluarga Kristen bukan berarti kamu adalah seorang Kristen!” Saya sangat geram!!! Betapa berani ia mengatakan bahwa saya bukan Kristen!!! Jadi Candi, Sophie dan Frank bergabung untuk mengunjungi saudari saya sehingga saya bisa mengatakan apa yang saya pikirkan mengenai suratnya. Sewaktu tiba di kampus, Candi mulai berkata, ‘Ini kultus! Ini kultus!” Jadi saya mempercayai dia. Kami berjalan melewati murid – murid yang telentang di rumput sambil membaca. Mereka menyadari kehadiran kami dan mulai berbisik di antara mereka. Mereka segera mengetahui bahwa saya memiliki hubungan dengan Rachel dan mereka pergi mencarinya. Rachel datang sambil menggandeng gitar. Ia sangat gembira melihat saya dan memeluk kami semua. Dengan senang hati, ia memperkenalkan kami kepada teman-teman sekelasnya yang kelihatan tidak yakin bagaimana mereka harus berpikir tentang kami. Lalu kami pergi bersama Rachel untuk duduk di tepi danau dan makan roti isi. Dia bertanya apakah kami mau mendengar lagu barunya? Kami menjawab “pasti”. Dia mulai memainkan lagu-lagu tentang Yesus. Saya merasa sangat terganggu sekali. Jadi saya minta ia berhenti memainkan lagu-lagu tentang Yesus dan kembali seperti orang normal. Dia mulai lagi mengeluarkan lagu-lagu tentang Yesus. Akhirnya saya berkata padanya, “Mengapa kamu tidak bisa normal? Mengapa semua hal harus tentang Yesus?” (Sangat lucu sekali bahwa saya bermaksud menyakinkan dia bahwa saya seorang Kristen tapi saya tidak tahan mendengar lagu tentang Yesus!)
           
     Afterwards, we walked over to the empty conference center and in the bathroom, I cornered my sister.  I said, "Do you accept me for who I am?"  Rachel had always loved me and did whatever I told her to do.  Now she was faced with the question of where she stood with my lesbian lifestyle.  She said, "Brooke, I believe what the Bible says about homosexuality and it says that homosexuals do not inherit the Kingdom of God.”     (1Corinthians 6:9-10 Don't you know that evil people will not receive God's kingdom? Don't be fooled. Those who commit sexual sins will not receive the kingdom. Neither will those who worship statues of gods or commit adultery. Neither will men who are prostitutes or who commit homosexual acts.  Neither will thieves or those who always want more and more. Neither will those who are often drunk or tell lies or cheat. People who live like that will not receive God's kingdom. )
Setelah itu, kami melangkah ke ruang pertemuan yang kosong dan di kamar kecil saya pojokkan saudari saya itu. Saya berkata, “Apakah kamu menerima saya apa adanya?” Rachel selalu menyayangi saya dan melakukan apapun yang saya katakan. Sekarang ia dihadapkan dengan pertanyaan dimana ia berdiri menghadapi kehidupan lesbian saudarinya. Dia berkata, “Brooke, saya percaya Alkitab berkata ttg homoseksualiti dan Ia berkata homoseksual tidak mewarisi kerajaan Surga. “ (1 kor 6:9-10 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah).

           I pointed right at her face and said, "You are on my black list, I HATE you!!"  We left her in the bathroom and she had to walk all the way back to campus by herself which was a few miles.  She sobbed the whole way back and upon returning she got her entire school to begin pray for me.
Saya menunjuk wajahnya dan berkata, “Kamu masuk dalam daftar hitam saya, saya membencimu!!” Kami meninggalkan dia di kamar kecil dan ia harus berjalan kaki kembali ke kampus yang beberapa kilometer jauhnya. Dia tersedu-sedu selama perjalanan pulang dan saat ia kembali ia mendapatkan seisi sekolah mulai berdoa untukku.
 
          Another night, after snorting crystal meth, Candi and I walked from the club to 7-11 to buy cigarettes.  There was a man sitting on the ground outside the door to the store.  He had long blonde, filthy hair and very blue eyes.  Candi and I were surprised to see him crying, so we asked him what was wrong.  He was holding a note in his hand from someone (it seemed like it was from a Christian although I don't remember all that it said)  It also had a pin of an angel attached to it.  We sat and talked with him and when I looked into his eyes, all I could think of was Jesus.  It seemed as if Candi was just as interested in talking with the man as I was.  She went in and bought him another bottle of vodka and then we all sat on the ground around the corner.  I continued to notice that every time I looked into the man's eyes, I felt like I was looking in Jesus' eyes.  It was strange, his eyes were so gentle and kind and filled with tears.  The feeling I had while being near him was one I have never experienced with a stranger in my entire life.  I never wanted to leave him, I wanted to go where ever he went.  And I remember saying these things in my heart.  Then he said some things to me, that I still wonder about to this day, I guess we had been talking about our eyebrows, we both had shaved some off and then put black pencil on to make them higher and more defined.  He looked at me and said, "You are going to grow your eyebrows back."  I said, "No I'm not."  He said, "Yes you are."  I said, "No, I can tell you for a fact that I'm not!"  He said, "Yes you are."  It was such a funny little thing to go back and forth about but he was certain when he said it to me, I found it kind of odd.  Then, a little more into the conversation he looked at me and said, "You are going to leave her."  (Referring to Candi) This time I didn't argue with him.  I wasn’t sure why I didn't argue with him on this point.  I wondered at his words.  Needless to say, Candi was furious with me for not disagreeing with him.
Di malam yang lain, setelah mengisap sabu-sabu, Candi dan saya berjalan dari klab menuju 7-11 untuk membeli rokok. Ada seorang laki-laki duduk di tanah di luat pintu toko. Ia memiliki rambut panjang keemasan, halus dan mata biru terang. Candi dan saya terkejut melihat ia menangis, jadi kami bertanya mengapa. Ia memegang sebuah catatan di tangannya dari seseorang (kelihatannya dari seorang Kristen meskipun saya tidak begitu ingat apa yang dikatakan). Catatan tersebut juga memiliki pin malaikat terekat disitu. Kami duduk dan berbincang dengan dia dan begitu saya melihat ke matanya, yang terpikirkan hanyalah Yesus. Sepertinya Candi juga tertarik untuk berbicara dengan laki-laki tersebut. Candi masuk ke dalam dan membelikannya sebotol vodka dan kami semua duduk di tanah dekat pojok. Saya menyadari setiap saya menatap mata laki-laki tersebut, saya merasa seperti melihat mata Yesus. Itu sangat aneh, matanya sangatlah lembut, baik dan dipenuhi air mata. Perasaan yang saya alami saat di dekatnya adalah perasaaan yang tidak pernah saya alami sebelumnya dengan orang asing manapun sepanjang hidup saya. Saya tidak ingin meninggalkannya, saya ingin mengikuti kemanapun ia pergi. Dan saya ingat mengatakan hal-hal ini dalam hati saya. Dan ia mengatakan sesuatu kepada saya, yang masih suka saya pikirkan sampai saat ini, saya rasa kami membicarakan tentang alis. Kami telah mencukur sebagian alis kami dan memakai pensil alis untuk membuatnya semakin tinggi dan tegas. Dia melihat kepadaku dan berkata: “Kamu akan menumbuhkan alismu kembali.” Saya jawab, ”Tidak.” Dia berkata lagi, “Ya, kamu akan.” Sungguh sangat lucu kami bolak balik membicarakan itu tapi ia amat sangat yakin sewaktu ia mengatakan itu. Saya merasa itu sangat aneh. Dan sedikit pembicaraan lagi ia menambahkan, “Kamu akan meninggalkannya.” (Menunjuk ke Candi). Untuk yang satu ini saya tidak membantah apa-apa. Saya tidak tahu persis mengapa saya tidak membantahnya untuk hal yang satu ini. Candi sangat geram mengetahui saya tidak membantah kali-kali tersebut.

          Some time passed after that encounter, I’m not sure how long, maybe a few weeks or a few months.  Candi and I were sitting in our apartment planning on going to the nightclub.  Every night of the week we were at a different club or bar.  It had become more of a job going to clubs rather than something I enjoyed.   She was sitting across from me at the kitchen table and said, "Let's check out this new club tonight," while pointing to the brochure she had.  I said, "No, every time I have gotten one of those brochures I get the worst feeling."  When the girl had handed me this brochure, a strange feeling came over me that if we went to this club something bad would happen.  It was a very strong sense that we shouldn’t go and I had never had anything like that ever happen before.   We had been making some enemies in Hollywood because Candi had beat up a very powerful woman’s ex-girlfriend.  We had noticed this lady following us in the clubs…lurking. 
Waktu berlalu sesudah kejadian itu, saya tidak yakin berapa lama, mungkin beberapa minggu atau beberapa bulan. Candi dan saya duduk di apartemen kami merencanakan pergi ke klab malam. Tiap malam tiap minggu kami pergi ke klab-klab yang berbeda. Itu telah menjadi semacan pekerjaan daripada sesuatu yang senang saya lakukan. Candi duduk di seberangku dan berkata ‘Mari mengunjungi klab baru malam ini,” sambil menunjuk brosur yang dipegang. Saya berkata, “Tidak, setiap saya mendapat salah satu dari brosur ini saya mendapat firasat buruk.” Ketika orang memberikan brosur ini, perasaan aneh muncul seperti jika kita pergi ke klab ini, hal buruk pasti terjadi. Perasaan ini sangat kuat sekali bahwa kami sebaiknya jangan pergi dan saya tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Kami telah membuat beberapa musuh di Hollywood karena Candi telah memukul mantan kekasih dari wanita yang sangat berkuasa. Kami menyadari bahwa wanita ini telah mengikuti kami di klab…mengintai.

Candi continued to press me, "Well, we owe it to ourselves to check it out, to at least see who is there."  I repeated my plea, "No, listen!  Every time I've gotten one of those brochures I get the worst feeling!!"  She said, "Well, then, let's just sit on the fence about it." 
Candi terus menekan saya “Ya kita harus cek, setidaknya melihat siapa saja disana.” Saya ulang keberatan saya “Tidak, dengar! Tiap saat saya mendapat brosur-brosur ini saya mendapat firasat buruk!!” Lalu dia berkata “YA, kalau begitu, mari kita duduk di pagar mengenai hal itu.”

Those words triggered something in me.  The only time I had ever heard the term 'sit on the fence' was in church when I was younger.  The preacher would say, "Don't sit on the fence; you are either hot for Jesus or cold, but not lukewarm!"  So, as the words she said, penetrated my heart, something took place.  I was sitting in my chair, and I sensed a presence enter the room.  It was as if it was coming right for me.  It was a strong presence and  I was so scared.  My heart began to pound as I frantically looked at Candi and said, "Do you feel that?"  She said, "Feel what?"  I turned toward the direction of where I felt it and held out my hand as if to stop it from coming toward me.  My breathing was getting stronger and faster as I said to Candi, "You don't feel that?"  She said, “Feel what? You don’t believe there is such a thing as a devil, do you?”  And then she said, “Oh yeah (mockingly) I do feel it, it's warm."  But what I had felt was cold and I knew from that moment on I couldn't trust her.  (Took me long enough!) 
Kalimat tersebut memancing sesuatu dalam diri saya. Satu-satunya saat saya mendengar  kalimat “duduk di pagar” adalah di gereja ketika saya masih kecil. Pendeta akan berkata “Jangan duduk di pagar; sebaiknya kamu panas atau dingin untuk Yesus, tapi tidak suam-suam kuku!” Jadi kalimat yang Candi katakan menembus hati saya. Saya duduk di kursi saya dan saya merasakan kehadiran sesuatu memasuki ruangan. Hati saya mulai berdebar dan dengan panik saya melihat Candi dan berkata “Apakah kamu merasakan itu?” Dia berkata “Merasakan apa?” Saya berbalik melihat ke arah mana saya merasakannya dan mengulurkan tangan saya untuk menghentikannya mendatangi saya. Napas saya memburu kuat dan cepat dan saya berkata “Apakah kamu tidak merasakannya?” Dia berkata “ Rasa apa? Kamu tidak percaya ada hal-hal semacam roh jahat, kan?” Lanjutnya “Yes (mengejek) saya merasakannya, ini hangat.” Tapi apa yang saya rasakan dingin dan saya tahu dari saat itu saya tidak dapat mempercayainya lagi. (Makan waktu lama!!)

I held out my hand toward it and began to say loudly, with everything in me, "In the Name of Jesus!!!!!!  In the Name of Jesus!!!!!!!  In the Name of Jesus!!!!!!"  Candi jumped  up from the table and put on her leather and said, "I'm outta here!" and she left!  I got up from the table and prayed, "Lord, I don't know what You want, but I'm asking You to help me." 


Saya mengulurkan tangan saya ke arah itu dan mulai berkata keras sepenuh hati saya “Dalam nama Yesus!! Dalam nama Yesus!! Dalam nama Yesus!!” Candi melompat dari meja,  mengenakan jaket kulitnya dan berkata “Saya keluar dari sini!” dan ia pergi! Saya bangkit dari meja dan berdoa “Tuhan, saya tidak tahu apa yang Engkau inginkan, tapi saya meminta Engkau untuk menolong saya.”

          As soon as I prayed, another presence came into the room, this one was different from the first.  This was an urgent, prompting and I heard in my heart, "Let's go!!!  Let's go!!!!"  It was an urgent pressing feeling, so I went to the closet to grab my hat and leather, the pressing was so urgent and so strong that I almost turned to the Invisible Presence and said, “Would you hold on a minute, I gotta get my hat!!” 
Selesai saya berdoa, kehadiran lain memasuki ruangan, yang satu ini lain dari yang pertama. Ini seperti sangat penting, mendorong dan saya dengar dalam hati saya “Ayo pergi!! Ayo pergi!!” Itu seperti tekanan yang sangat kuat, jadi saya pergi ke lemari untuk mengambil topi dan jaket kulit saya, tekanan itu sangat kuat sampai saya hampir ingin berbalik untuk kehadiran yang tidak kelihatan itu dan berkata “Maukah kamu menunggi semenit, saya harus mengambil topi saya!!”

I left my apartment not knowing what I was doing or where I was going.  I went down 3 flights of stairs out into the night.  It was a Saturday night in Hollywood and the town was jumping.  Just up the street was Hollywood Blvd. with cars full of gang members bumper to bumper.  I was out in front of my apartment and prayed, "Okay Lord, which way do You want me to go?" I wasn't sure what I was doing outside.  Then, I felt as if my body was gently being turned in the direction that I was supposed to go, so, I walked up the hill and began to empty my pockets.  I took out a Zippo lighter that Candi had given me.  It had belonged to her Dad who had died and I found myself setting it on the wall as I walked up the hill. (When we did the Ouija board we supposedly talked with her Dad)   I knew in my heart that she would never forgive me for this, but I had to let it go.  Each time I would  pray, I would feel the gentle impression to go in a certain direction.  I realized I was really being led by the Lord.  So I walked until I ended up coming to an on ramp that led onto the 101 freeway.  
Saya tinggalkan apartemen saya tanpa tahu apa yang saya lakukan dan kemana saya harus pergi. Saya melompati tangga keluar. Itu adalah malam minggu di Hollywood and kota sangat ramai sekali. Di depan jalan adalah Hollywood Blvd, penuh mobil-mobil dari anggota gank. Saya di luar apartemen saya dan berdoa “Baiklah Tuhan, arah mana yang Kau ingin saya tempuh?” Saya tidak terlalu yakin apa yang saya lakukan di luar. Lalu saya merasa seperti badan saya diputar ke arah mana yang seharusnya saya tuju, jadi saya berjalan ke arah bukit dan mulai mengosongkan kantong saya. Saya mengeluarkan pemantik Zippo yang telah diberikan Candi. Itu adalah milik ayahnya yang telah meninggal dan saya letakkan di tembok selama perjalananan saya ke bukit. (saat kami melakukan permainan papan Ouija, kami menggunakan ini untuk berbicara dengan ayahnya). Saya tahu dalam hati saya bahwa dia tidak akan memaafkan saya untuk hal yang satu ini, tapi saya harus melepaskannya. Tiap saat saya berdoa, saya bisa merasakan sosok lembut mengarahkan tujuan saya. Saya sadar saya dipimpin oleh Tuhan, Jadi saya berjalan sampai ujung lerengan bukit yang menuju jalan tol 101.

          I stood at the entrance to the freeway and said, "Which way do You want me to go?"  I didn't feel impressed to do anything, I turned and looked behind me and noticed a slope that went down into a dark ravine.  The ravine was filled with ivy, bushes and trees and I turned around from it and thought to myself, "I don't want to go down there, there is probably someone sleeping down there."  So, I stood where I was for a minute or so, and then started to doubt it all.  I started thinking that I was going crazy and that I had imagined it all.  That is when I heard this, (in my spirit)  "Brooke, Fear not, for I Am the Lord your God," I was gently turned around to the ravine and I heard,  "Though you may walk through the valley of the shadow of death, you shall fear no evil for My rod and My staff will comfort you." (Psalm 23:4)
Saya berdiri di pintu masuk tol dan berkata “Arah mana yang Kau ingin aku pergi?” Saya tidak tertarik untuk melakukan apapun, saya berbalik dan melihat di belakang saya ada lereng ke bawah yang menuju jurang gelap. Jurang tersebut penuh dengan semak belukar dan saya berpikir “Saya tidak mau ke bawah sana, mungkin ada seseorang yang tidur di bawah sana.” Jadi saya berdiri sekitar semenit dan mulai meragukan ini semua. Saya mulai berpikir bahwa saya gila dan berimaginasi. Dan saya mulai mendengar ini (dalam roh saya) “Brooke, jangan takut, Akulah Tuhan Allahmu,” Saya berbalik ke arah jurang dan saya mendengar “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Maz 23:4)

          There was a tiny little path that led down the ivy filled ravine, and I slowly inched my way down the slope.  As I looked around, I realized that I wasn't scared.  I also noticed that no one could see me down here either, so I just stood there not moving.  Then, a gentle breeze blew by me.  I thought of the Lord.  Then I heard this, "Love is the most powerful Source in the universe."  I was in awe of the words because I knew that my own mind didn’t come up with them.  My eyes focused on a tiny little tree about 15 feet away and I heard the words again, "Love is the most powerful Source in the universe."  I had a desire in me to be near the tree that my eyes were fixed on, so I managed my way to the tree.  Once I was under the tree, I heard the words again, "Love is the most powerful Source in the universe."  I touched one of the leaves from the tree and noticed that it was shaped like a heart, in fact every leaf on the tree was shaped as a heart!!!!!  I began to weep.  I said to the Lord, "Okay....Love is the most powerful Source in the universe....what about Candi?" 
Ada jalan kecil yang menuju bawah jurang dan saya beringsut menuruni lereng. Saya melihat berkeliling dan saya menyadari bahwa saya tidak takut. Saya juga menyadari tidak ada otang yang bisa melihat saya di bawah ini, jadi saya hanya berdiri diam tidak bergerak. Lalu angin sepoi-sepoi bertiup ke saya. Saya berpikir tentan Tuhan. Lalu saya mendengar ini “Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta.” Saya menyentuh salah satu daun di pohon dan memperhatikan bahwa bentuknya seperti hati, malah semua daun yang di pohon itu bentuknya hati!!! Saya mulai tersedu-sedu. Saya berkata kepada Tuhan “Baik…Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta…Bagaimana tentang Candi?”

I heard  a very loud,"NO!!!!" It startled me and at that moment it felt like there was somebody down in the ravine with me, it hadn't felt that way before.  It was as if a man was standing behind me.  I was paralyzed with fear.  I tried to turn around to see if someone was behind me but I couldn't even turn my head to look because I was so scared.  In my mind's eye, it seemed like a man with a knife was getting ready to stab me.  My head was swirling and my mind was confused.  An overwhelming temptation came to run out of there as fast as I could.  I felt like I was going to lose my mind.  And that is when I came to my fork in the road.  I had to decide who I was going to live for:  Candi or Jesus.  It took everything within me to choose and I chose with all of my heart and all of my soul and said, "Nnnnnnnoooooooooo.....Love is the most powerful Source in the universe, Love is the most powerful Source in the universe, Love is the most powerful Source in the universe."  The presence left.  I had made my decision to follow Jesus.  (It seemed as if  what had just taken place was that I was sitting on the fence and I was caught between the Kingdom of God and the kingdom of satan.  I had told people I was a Christian but my lifestyle said that I wasn’t.  God had drawn me to the ravine away from Candi so that I could make a decision. The evil presence that I felt with me in the ravine was satan coming for me since I had chosen to believe him and his lies over the Bible.  But now I had made the decision to come off of the fence and follow Jesus.)
Saya mendengar kata “TIDAK!!” yang sangat keras dan saya terkejut saat itu seperti ada seseorang di jurang bersama saya, sebelumnya tidak seperti itu. Seperti ada seseorang laki-laki berdiri di belakang saya. Saya lumpuh ketakutan. Saya mencoba untuk berbalik untuk melihat apakah ada orang di belakang saya tapi saya bahkan tidak bisa menoleh karena terlalu takut. Di dalam mata hati saya, sepertinya ada laki-laki dengan pisau yang siap membunuh saya. Kepala saya berputar – putar dan pikiran saya kosong. Godaan luar biasa datang untuk lari secepatnya drari tempat itu. Saya merasa seperti saya kehilangan akal. Dan itulah saatnya saat berada di persimpangan jalan. Saya harus memilih untuk siapa saya hidup: Candi atau Yesus. Segala dalam diri dikerahkan untuk memilih dan saya memilih dengan segenap hati dan seluruh jiwa berkata “Tidakkkkkkk…Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta, Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta, Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta.” Kehadiran itu hilang. Saya telah memutuskan untuk mengikut Yesus. (Kejadian barusan seperti saya duduk di pagar dan saya berada di antara Kerajaan Surga & Kerajaan Iblis. Saya berkata bahwa saya seorang Kristen tapi pola hidup saya berkata bahwa saya bukan. Tuhan telah membawa saya ke jurang jauh dari Candi sehingga saya bisa membuat keputusan. Kehadiran iblis yang saya rasakan di jurang adalah setan yang datang untuk saya karena saya memilih untuk mempercayainya dan kebohongannya daripada Kitab Suci di masa lampau. Tapi sekarang saya telah membuat keputusan untuk turun dari pagar dan mengikut Yesus).

After my experience at the tree, I went back to my apartment to find Candi standing at the place in our apartment that had many occult artifacts, it was also known as the altar.  She was burning incense and wearing my necklace.  The incense was pouring out into the hallway.  She was trying to use magic to find out where I was.  She saw me as I sat down at the top of the stairs, not really knowing what the next step was, all I knew is that I had had a conversation with God and that I had made a decision to follow Him.  I knew I had to leave but I didn't know how and the strange part was, I wanted to leave.  I had never before wanted to leave her, she had been my life, my soul mate.  So she came out into the hallway and was asking me where I'd been.  I wouldn't talk to her and I refused to come in.  She was very attentive to me and sat down in the hallway trying to persuade me to come in.  I refused for a while but became so tired I gave in, however, I slept out in the living room.  Candi sat next to me furiously writing a note to me.  I would doze off and wake up with a startle and there she sat, writing.  I tried to ignore everything she said because I didn't trust her anymore.
Setelah pengalaman saya tadi, saya kembali ke apartemen dan menemukan Candi berdiri di altar dalam apartemen kami yang memiliki banyak artefak okultisme. Dia membakar dupa dan mengenakan kalung saya. Dupa itu disebarkan ke lorong. Dia mencoba menggunakan magic untuk mencari dimana saya. Dia melihat saya duduk di atas tangga, tidak tahu harus berbuat apa selanjutnya, yang saya tahu hanya saya baru saja memiliki percakapan dengan Tuhan dan saya telah mengambil keputusan untuk mengikutiNya. Jadi dia keluar ke lorong dan bertanya kemana saya pergi. Saya tidak mau berbicara dengan dia dan menolak untuk masuk. Saya menolak sebentar tapi karena saya lelah, saya menyerah dan tidur di ruang tamu. Candi duduk di samping saya mati-matian menulis untuk saya.  Saya tertidur dan bangun dengan terkejut dan disana ia duduk, menulis. Saya mencoba untuk tidak memperdulikan apapun yang dia katakan karena saya tidak mempercayainya lagi.
 
          The next morning, I packed a suitcase and I insisted that she drive me to the airport so that I could leave her, although I wasn’t sure how I was going to do that. The problem was I had no money and didn't take my parents phone number with me when we left the apartment.  So, she followed me around the airport asking me over and over what I was doing.  The truth was, I didn’t know so I ended up going back home with her.  Candi was not one to chase after anyone, she was always in control.  There was a definite break between us and we both knew it but she continued to pursue me.  I soon began refusing to go to the clubs with her, which infuriated her because I had always done everything she had wanted me to….until now.
Keesokan paginya saya membereskan koper dan saya bersikeras agar dia mengantar saya ke airport sehingga saya bisa meninggalkan dia, walaupun saya tidak yakin bagaimana saya akan melakukannya. Masalahnya saya tidak memiliki uang dan saya meninggalkan nomor telpon orang tua saya di apartemen. Jadi ia mengikuti saya keliling airport dan terus-terusan bertanya apa yang saya lakukan. Kenyataannya saya tidak tahu jadi saya berakhir dengan mengikuti dia pulang ke rumah. Candi bukan tipe yang mengejar-ngejar orang, dia selalu terkontrol. Ada jeda yang pasti antara kami dan kami berdua mengetahuinya tapi Candi terus menerus mengejar saya. Saya mulai menolak ajakan ke klab-klab dengannya, yang mana membuat ia sangat geram karena saya selalu melakukan apa yang ia ingin saya lakukan…sampai sekarang.
   
One night, Candi and I went to the grocery store about 2 in the morning, we liked to shop at night, in fact it seemed like everything we did was at night!  So we had finished shopping and came out of store and there was a group of Mexican guys standing around.  They worked at the store.  Candi walked over to them and spoke to them in such a low tone I couldn't hear her although I was standing right there.  All of the guys she spoke to, looked at me while she was speaking.  I felt very uncomfortable and didn't understand what was happening.  As soon as we turned toward the parking lot we met a street guy with a "story."  It was often we would encounter street people with a story of this or that and so we would just give them some change or tell them we didn't have any and walk on, but tonight was different.  This man was noticeably faking an accent.  His story was that he needed a ride to the bus station to get a suitcase out of a locker.  Then he pulled out a wad of money and flips through the bills.  (Seems to me if he had money like that why was he asking us for a ride?)  I was planning on going right on past him as we usually did but Candi engaged him in conversation.  The man said, "You must be a Christian."  I immediately blurted out, "Yes, how did you know?"  He said, "Cause if you weren't you wouldn't have listened to my story."  Then he pulled out a small, torn, piece of paper with this written on it, “Don Bro”  I was getting scared.  (my last name starts with Don and my first name starts with Bro. ) He said, "I'm looking for the Don Brown motel."  We both told him we hadn't heard of it.  Then Candi tells me to take the groceries to the car.  I was so shocked as to why she would tell me to do that.  She never sent me away alone or ever engaged strangers in conversation, she was very street smart.  She said she was going to help this guy look for the motel in the yellow pages.  So, I took the grocery cart to the dark parking lot, my heart was pounding because I felt like she was up to something, none of it made any sense.  After getting to the car, I glanced over at them and they were looking down at the yellow pages.  I noticed that she was speaking to him about something and gesturing with her hand.  It seemed to me that she had a lot to say to a perfect stranger just looking for a motel in the yellow pages.  This went on for a while, so I pulled the car up to the curb and she was still looking down at the yellow pages with this guy and still talking and gesturing with her hand. 
Satu malam, Candi & saya pergi ke toko sekitar jam 2 pagi, kami suka berbelanja tengah malam, bahkan kalau dipikir-pikir semua yang kami lakukan selalu malam hari. Jadi kami selesai berbelanja, keluar dr toko dan ada grup laki-laki Mexico berdiri di sekitar. Mereka bekerja di toko. Candi menghampiri mereka dan berbicara dalam nada yang rendah sekali yang membuat saya tidak bisa mendengarnya walaupun saya berdiri disana juga. Laki-laki yang ia ajak berbicara melihat sebentar ke saya. Saya tidak merasa nyaman dan tidak mengerti apa yang terjadi. Sesegera kami kembali ke parkiran, kami bertemu dengan pengemis jalanan yang memiliki kisah tersendiri. Kami sering bertemu dengan pengemis jalanan dengan berbagai macam cerita, jadi biasanya kami memberikan uang kecil atau berkata pada mereka bahwa kami tidak ada uang, dan kamipun berlalu, tapi malam ini berbeda. Laki-laki ini diketahui memiliki logat palsu. Katanya ia membutuhkan tumpangan ke stasiun bis untuk mengambil koper dari loker. Lalu ia menarik segenggam uang. ( dalam hati saya, kalau ia memiliki uang sebanyak itu, mengapa ia membutuhkan tumpangan?). Saya bermaksud untuk tidak memperdulikan laki-laki itu seperti yang biasa kami lakukan tapi Candi melibatkan dia dalam percakapan. Laki-laki itu berkata “Kamu pasti Kristen!” Saya segera keceplosan “Darimana kamu tahu?” Katanya lagi “Karena kalau kamu bukan Kristen , kamu tidak akan mendengarkan cerita saya tadi.” Lalu ia mengambil secarik kertas kecil dengan tulisan “Don Bro”. Saya sangat ketakutan. (nama akhir saya dimulai dengan Don & nama awal saya diawali dengan Bro). Dia berkata bahwa ia mencari motel Don Brown. Kami berdua berkata bahwa kami tidak mengetahuinya. Lalu Candi menyuruh saya meletakkan belanjaan dalam mobil. Saya sangat kaget mengapa ia menyuruh saya melakukan hal seperti itu? Dia tidak pernah membiarkan saya sendiri atau melibatkan orang asing dalam percakapan. Dia adalah orang jalanan yang pintar. Dia berkata dia akan menolong laki-laki ini mencari motel di halaman kuning. Jadi saya mengambil kereta belanja ke tempat parkir yang gelap, hati saya berdebar kencang karena saya merasa dia merencanakan sesuatu. Setelah di mobil, saya melirik ke mereka dan mereka sedang menunduk ke arah buku kuning. Saya perhatikan ia sedang berbicara dengan laki-kali tersebut dan megisyaratkan sesuatu. Dia kelihatan berbicara cukup banyak untuk seorang asing yang sedang mencari motel di buku kuning. Ini berlangsung beberapa waktu, jadi saya menyalakan mobil dan Candi masih saja menunduk ke buku kuning dengan orang asing ini sambil mengisyaratkan sesuatu dengan tangannya.

          I was very afraid while I sat and waited in the car.  All I could do in my mind was repeat the Words, "Love is the Most Powerful Source in the universe."  Candi had told me once about her Dad being one of seven sons of a Sicilian family.  She had told me that her Dad's brothers were in the Mafia.   (maybe that is what Don Bro meant I don’t know) She had told me the story of how she had met her Dad's brothers for the first time at his funeral.  They hadn't known about her because her Dad had never divorced his first wife because he was Catholic and had his cousin pose as a minister for his second wedding.  So up until the day of the funeral, the brothers never knew of Candi, but when they met her they couldn't deny that she looked just like her Dad.  She told me that they pulled her aside at the funeral and told her that they couldn't deny she was his daughter and said that if there was ever anything she ever needed or wanted all she had to do was let them know. 
Saya sangat takut saat saya duduk dan menunggu di mobil. Apa yang kulakukan dalam pikiran adalah berulang-ulang mengucapkan “Kasih adalah sumber kekuatan di alam semesta”. Candi pernah mengatakan bahwa ayahnya adalah salah satu anak laki0laki di sebuah keluarga Sisilia. Dia berkata bahwa salah satu saudara ayahnya bergabung di Mafia (mungkin itu artinya Don Bro, mana saya tahu). Dia menceritakan bagaimana ia bertemu dengan saudara-saudara ayahnya saat pemakaman. Mereka tidak tahu tentang Candi karena ayahnya tidak pernah menceraikan istri pertama karena ia Katolik dan menyuruh sepupunya berakting menteri untuk perkawinan keduanya. Jadi sampai saat pemakaman, saudara laki-laki ayahnya itu tidak mengetahu tentang asal usul Candi, tapi ketika mereka berjumpa dengan Candi mereka tidak dapat menyangkal bahwa Candi benar-benar mirip ayahnya. Candi bilang padaku bahwa mereka menariknya ke pinggir pemakaman dan berkata bahwa Candi memang anaknya dan apabila Candi membutuhkan sesuatu, yang harus ia lakukan adalah memberitahukan mereka.

The street guy and Candi walked over to the car.  She got into the front passenger side and he walked around the car and started to open the passenger door behind me!  (Seems to me if you are getting a ride from someone you would get in the same side of the car as they did instead of walking all the way around the car to sit directly behind the driver.) Then Candi states, "Oh, he's coming with us."  I said very sternly, "Oh no he's not!!!!!!"   So he is standing there with the door half open, waiting for her to tell him what to do.  I said, "There is no way we are driving this guy anywhere!"  So she says, "Sorry man."  The man shuts the door and we go home.  When we got home, I told Brent (Candi's ex-boyfriend who was still in her life).  He says to me, "Why didn't you let the guy go with you?" I couldn't believe my ears!!!   They were always so cautious of people and taught me, "Trust no one!!!"  And now, both of them were being exactly opposite of their normal character.  I had known them both for about six years now and I knew something was wrong with the way they were behaving.  I was really scared and felt very alone.


Pengemis jalanan itu berjalan bersama Candi ke mobil. Candi berjalan ke pintu depan sebelahku dan lelaki itu berjalan memutari mobil dan membuka pintu belakang, tepat di belakangku!! (Pikiranku buat apa orang yang mau menumpang harus mengitari mobil dan duduk di belajang supit, ia bisa duduk sejajat dengan Candi). Lalu Candi berkata ‘Ia akan ikut kita.” Saya berkata tegas “Tidak akan!” Jadi ia berdiri disana dengan pintu setengah membuka, menunggu Candi memerintah sesuatu padanya. Saya bilang “Tidak mungkin kita mengantarkannya  kemanapun!” Lalu Candi meminta maaf kepada orang tersebut lalu laki-laki itu membanting pintu dan kami pulang. Ketika kami sampai rumah, saya menceritakannya kepada Brent (mantan kekasih Candi yang masih saja ada dalam hidupnya). Tapi Brent berkata “Mengapa tidak kau biarkan laki-laki itu pergi bersamamu?” Saya tidak dapat mempercayai pendengaran saya!! Mereka adalah orang yang selalu berhati-hati dan selalu mengajari saya untuk tidak mempercayai siapapun. Sekarang mereka berdua bertingkah laku sebaliknya dari kebiasaan mereka sendiri. Saya telah mengenal mereka selama 6 tahun dan saya tahu ada yang salah dari mereka bersikap. Saya sungguh takut dan benar-benat merasa sendiri.

          A few nights later, the phone rang, I answered it and Brent asked for Candi and also asked if we were coming by later that evening.  I told him we were.  Then he said, "Watch out for the Mexicans."  I said, "What?"  He repeated himself, "Watch out for the Mexicans."  "What is that supposed to mean?" I asked.  He wouldn't answer me but said, "Put Candi on the phone."  So I did.  That night, on our way to his house, we came to the stop sign near our apartment and about 15 Mexican guys surround the car they were yelling and shaking their fists at me.  I turned the corner and came to the next stop sign and again the car was surrounded with young Mexican guys yelling and slamming their hands on the car.  I had no idea what was going on and so Candi yells at me to go, so I stepped on the gas and pulled out into traffic.  That freaked me out.  All that went through my mind was how Brent had told me to watch out for the Mexicans.  I was very scared and I didn't trust Candi or Brent.  But Candi still pretended to be “with” me but I could see clearly she was against me.  I would notice her talking quietly with Brent and others and when I came around she would stop talking.  She had never done this to me before.  I was so afraid and didn’t know what to do next.  When I questioned Brent about it later that night he acted as if I didn’t even say a word.  He just started talking to someone else about something completely different.
Beberapa malam kemudian, telpon berbunyi , saya menjawabnya dan Brent mencari Candi sekaligus bertanya apakah kami akan datang pada malam itu. Saya mengiyakannya. Lalu ia berkata “Hati-hati dengan orang Mexico.” Saya berkata “Apa?” Dia mengulangi ucapannya “Hati-hati dengan orang Meksiko.” “Apa maksudnya?” tanya saya. Dia tidak menjawab saya dan meminta bicara dengan Candi. Malam itu, saat kami menuju rumahnya, kami berhenti dekat apartemen kami dan 15 laki-laki mexico datang mengelilingi mobil, berteriak serta mengacungkan tinju-tinjunya kepada saya. Saya menyetir ke belokan berikutnya dan sekali lagi mobil dikelilingi oleh orang-orang Mexico yang berteriak dan memukul-mukul mobil dengan tangan mereka. Saya tidak mengerti apa yang terjadi, Candi berteriak ke saya untuk pergi. Jadi saya tekan gas dan keluar dari kemacetan. Semuanya melintas ke dalam kepala saya bagaimana brent telah memperingatkan saya untuk berhati-hati dengan orang Meksiko. Saya sangat takut sekali, saya tidak mempercayai Candi atau Brent. Candi masih berpura-pura seperti mendukung saya padahal saya dapat melihat jelas bahwa ia melawan saya. Saya perhatikan Candi berbicara pelan-pelan dengan Brent atau lainnya and ia akan berhenti bicara apabila saya datang. Dia tidak pernah memperlakukan saya seperti ini sebelumnya. Ketika saya tanya Brent, ia bersikap seolah-olah saya tidak ada. Dia akan mulai berbicara dengan orang lain tentang hal yang lain lagi.

A few days later, as this battle continued, Candi and I went for a drive to Malibu.  She was really making an effort to win me back and I was starting to think I should go back with her.  We pulled over to buy some cigarettes.  She went into the store, as I waited.  I looked over to my left and saw an older black man.  He was pushing a shopping cart and looked homeless.  He came up to the car and started to spray the windshield with water and wipe it  with a newspaper.  I wouldn't have minded if he had asked me to do that, but he didn't, so I was infuriated!!!  I sat watching him while he smudged my windshield, then he went to the other side of the front windshield and smudged it some more.  Then he came around to my side again to receive his payment!!!  I wasn't pleased but didn't want any trouble, so, I cracked the window and gave him a few coins.  Candi opened the passenger door and got in.  Just then, the man looked right at me and pointed, and said with a stern voice, "You know what you need to be doing!"  The words hit my heart like a knife and pierced it, and immediately Candi snarled, "Don't listen to him!!!" 
Beberapa hari kemudian, peperangan ini berlangsung, Candi dan saya pergi berkendara ke Malibu. Dia benar-benar berusaha memenangkan saya kembali dan saya mulai berpikir untuk kembali padanya. Kami berhenti di pinggir untuk membeli rokok. Dia masuk ke dalam toko dan saya menunggu. Saya memandang kiri dan melihat laki-laki hitam dan tua. Dia mendorong kereta belanja dan kelihatan gelandangan. Dia mendekati mobil, mulai menyemprot dengan air dan mengelapnya dengan koran. Saya tidak akan keberatan apabila ia meminta ijin, tapi ia tidak, jadi saya sangat geram. Saya perhatikan ketika ia mengelap kaca depan dengan belepotan, lalu ia berpindah ke sisi yang satu lagi dan ia kembali ke sisiku lagi untuk meminta bayarannya!!! Saya tidak senang tapi tidak ingin ribut-ribut, jadi saya membuka jendela dan memberinya beberapa koin. Candi membuka pintu penumpang dan masuk. Lalu, laki-laki tersebut melihat ke arah saya dan menunjuk serta berkata dengan suara tegas “Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan!” Kalimat tersebut mengena ke hati saya seperti pisau dan dengan geram Candi berkata “Jangan dengarkan dia!!”

 I was absolutely amazed!!!!!  Here is this perfect stranger who says one thing to me, and she reacted to his words as if she knew that he was telling me that I needed to leave her.  Her reaction to his words showed me that the Lord had spoken through that stranger and that the devil was speaking through her.    I knew from that moment on I had to get out and get out soon!!!  Hebrews 4:12  The word of God is living and active. It is sharper than any sword that has two edges. It cuts deep enough to separate soul from spirit. It can separate joints from bones. It judges the thoughts and purposes of the heart.


Saya benar-benar terkesima!!!!! Seorang asing mengucapkan sesuatu kepada saya dan Candi bereaksi seakan ia tahu bahwa laki-laki tersebut berkata kepada saya untuk meninggalkannya. Reaksi dia terhadap kalimat tersebut menunjukkan ke saya seakan Tuhan bisa berbicara melalui orang asing tersebut dan iblis berbicara melalui Candi. Saya tahu semenjak itu saya harus keluar sesegera mungkin! Ibrani 4:12 Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

          The rest of that day didn't go well between us because my heart had heard the Lord and I wanted to obey Him.  It was either the next day or day after that I made my decision to call my parents home.  I sat in front of the phone, nervous and wringing my hands.  What was I going to say??  My parents had taken a stand against the way I lived and we didn't have much of a relationship, yet, I knew I could call and they would help me.  So when Candi was out, I called home, my Mom answered.  "Mom?"  I said.  "Can I come home?"  "Sure, how long do you want to stay?" she asked.  "No, Mom, I mean can I come home?  I think my life is in danger."  Immediately my Mom knew she had to act quickly.  A few years earlier my Mom and Dad had received a Word of Knowledge concerning me and it was this, "If Brooke tells you she wants out, you need to act immediately!!!"  ( A Word of Knowledge is a gift that the Holy Spirit uses to tell people things that they could only know by the Spirit of God)  So my mom had remembered this and immediately began to call all of her praying friends.  "Pray!!!!...  Brooke is coming home!!!"  So the Body of Christ began to pray for me.  Then my Dad called my brother Tim in California who lived two hours from me, he explained the danger and my brother willingly accepted the challenge to drive into Hollywood.  He brought with him an ex-police officer, who was carrying a gun.  My Mom made an emergency phone call to my sister Rachel who was at Bible College which was in the same city that my brother Tim lived in. She brought her fiancé Tim along too.  Rachel was the one who had gotten her whole school to pray for me months earlier.  So my mom calls me back and tells me that my brother and sister and two others were coming to get me.
Sisa hari itu tidak berlangsung baik di antara kami karena hatiku telah mendengar suara Tuhan dan saya ingin mematuhiNya. Entah keesokan hari atau lusanya saya memutuskan untuk menelpon orang tua saya. Saya duduk di depan telpon, resah dan meremas-remas tangan saya. Apa yang hendak saya katakan? Orang tua saya telah menetapkan tidak menyetujui gaya hidup saya dan kami tidak memiliki hubungan terlalu baik, tapi saya tahu apabila saya menelpon mereka akan menolong. Jadi waktu Candi keluar, saya menelpon rumah, ibu yang menjawab. “Bu, bisakah saya pulang ke rumah?” kata saya. “Tentu, berapa lama kamu ingin tinggal?” ia bertanya. “Bukan Bu, maksud saya dapatkah saya pulang? Saya rasa hidup saya dalam bahaya.” Segera ibu saya tahu bahwa ia harus bertindak cepat. Beberapa tahun yang lalu, orang tua saya menerima sebuah Kalimat Pengetahuan berkaitan dengan saya “ Apabila Brooke berkata ia ingin keluar, kamu harus bertindak secepat mungkin!!!” (Kalimat Pengetahuan adalah alat yang digunakan Roh Kudus untuk berkata kepada orang-orang tentang hal yang dapat mereka ketahui dari Roh Tuhan). Jadi ibu saya mengingat ini dan mulai menelpon teman-teman berdoanya “Berdoa!!...Brooke akan pulang!!”. Jadi seluruh Tubuh Yesus mulai berdoa untuk saya. Lalu ayah saya menelpon saudara saya Tim dari California yang tinggal 2 jam jauhnya dari saya, ayah saya menjelaskan bahayanya dan saudara saya itu bersedia menerima tantangan menyetir ke Hollywood. Dia pergi bersama mantan seorang polisi yang membawa senjata. Ibu saya segera menelpon saudari saya Rachel yang tinggal di kota yang sama denga Tim. Dia juga membawa tunangannya. Rachel adalah saudari saya yang dulu mendoakan saya dengan seisi sekolah. Lalu Ibu saya menelpon saya kembali dan berkata bahwa saudara saya dan 2 orang lainnya akan datang menjemput saya.
 
          I frantically began to pack.  In my room, lying next to my bed, was an illegal, loaded, assault rifle.  Brent had given it to us for protection, but now I was very aware of it.  That morning, for the first time in our relationship, Candi yelled at me and knocked me down.  All my suitcases were in the living room when Candi walked in.  "Where do you think you are going?"  I had determined not to say a word to her.  "Who is coming to pick you up?"  she asked.  "You aren't taking the car anywhere" she stated with authority.  I just stayed quiet.  I was scared but calm.  The phone rang, I ran to it and quickly answered it.  My brother was down the street.  (It had been a few hours since I had made the phone call)  He and my sister were going to remain in the Bronco because Candi knew what they looked like.  So I buzzed the ex-police officer and my sister's fiancé Tim, into the building and they knocked at the door.  As soon as I opened it, I began handing them suitcases.  They took them quickly (it was amazing that two men I had never met before risked their lives for me).  Candi was demanding, "Who are you?  Then she asked me, "Who are these people?"  She had been taken off guard.  It had all happened so quickly she didn't have time to do much.  I got out safely and into the Bronco and she walked out of the apartment building with something in her hand.  It was a statue of Baby Jesus that I had wanted to give to my Mom but never did, she threw it into my half open window and said, "Don't forget to take this!!"  That was the last time I ever saw her.
Saya mulai panik berberes-beres. Di kamar saya, di sebelah tempat tidur, ada sebuah senjata ilegal yang penuh peluru. Brent telah memberinya kepada kami untuk perlindungan tapi sekarang saya sungguh berhati-hati dengan itu. Pagi itu untuk pertama kalinya dalam hubungan kami, Candi berteriak dan menghajar saya. Semua koper saya ada di ruang tamu ketika Candi melangkah masuk. “Kemana kamu pikir kamu akan pergi?” tanyanya. “Kamu tidak akan membawa mobil itu kemanapun” dia mulai memerintah. Saya hanya diam. Saya takut tapi saya tenang. Telpon bunyi dan saya berlari untuk menjawabnya. Saudara saya ada di seberang jalan. (beberapa jam telah berlalu semenjak saya menelpon rumah). Tim dan Rachel akan menunggu di Bronco karena Candi mengetahui bagaimana wajah mereka. Jadi saya memberi isyarat ke mantan polisi dan tunangan Rachel untuk masuk ke dalam gedung dan mereka mengetuk pintu. Begitu saya membukanya, saya mulai menyerahkan koper-koper saya. Mereka mengambilnya cepat-cepat (sungguh menakjubkan 2 orang yang tdk dikenal meresikokan hidup mrk bagi saya). Candi mulai menuntut “Siapa kamu?” Lalu ia mulai bertanya saya “Siapa orang-orang ini?”. Dia lengah. Ini semua berlangsung begitu cepat sampai ia tidak bisa berbuat banyak. Saya keluar dengan selamat dan Candi menyusul keluar dari apartemen dengan sesuatu di tangannya. Itu adalah patung bayi Jesus yang selalu saya ingin berikan kepada ibu saya tapi tidak pernah jadi. Dia lempar ke jendela saya yang setengah terbuka dan berkata “Jangan lupa membawa ini.” Itu adalah saat terakhir saya bertemu dengannya.
         
I left Hollywood so very fragile and broken.  I had been in such deep darkness for so long, that coming into the Light was a slow and delicate process.  My life had been directed by a woman who had practiced witchcraft and had read the satan bible.  I had been her prisoner.  But now, for the first time, I had been released from the prison of my sinful life, and I was brought into the light.  It took time to heal and allow the Lord to restore what the devil had destroyed.  Colossians 1:12-14: As you give thanks to the Father.  He has made you fit to share with all his people. You will all receive a share in the kingdom of light. He has saved us from the kingdom of darkness. He has brought us into the kingdom of the Son he loves.  Because of what the Son has done, we have been set free.  Because of Him, all of our sins have been forgiven. 


Saya meninggalkan Hollywood dengan hati yang patah dan rapuh. Saya telah di dalam kegelapan untuk waktu yang cukup lama, sekarang berjalan menuju terang adalah proses yang perlahan dan a lot. Hidup saya telah dipimpin oleh wanita yang mempraktekkan ilmu sihir dan membaca kitab suci iblis. Saya telah menjadi tahanannya. Tapi sekarang, untuk yang pertama kali, saya telah dilepaskan dari penjara dosa saya, saya dibawa ke dalam terang. Itu butuh waktu untuk menyembuhkan dan mengijinkan Tuhan memperbaiki apa yang telah Iblis hancurkan.
Kol 1:12-14  dan mengucap syukur dengan sukacita kepada Bapa, yang melayakkan kamu untuk mendapat bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam kerajaan terang. Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.

          A few weeks after being in South Carolina, I was reading the Bible but I couldn’t understand it.  I read this Scripture,   Then Jesus spoke to His disciples.  He said, "If anyone wants to follow me, he must say deny himself.  He must pick up his cross and follow me.  Matthew 16:24 
Beberapa minggu setelah berada di Caroline Selatan, saya sedang membaca kitab suci tapi tidak dapat mengerti. Saya membaca ayat ini: Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku Mat 16:24

I actually thought that I had to literally pick up a cross.  Which I did!  I hadn't wanted to do it but because I didn't understand what it was really saying, I figured I had to do it.  All I knew was that Jesus was the most important Person in my life and I was going to do whatever it took to follow Him.  So I made a cross out of my sister's walking sticks and carried it on my back down the street of the small town that I had just come to.  Needless to say, a neighbor called the police and I was then arrested and taken to the police station.  At the police station they questioned me regarding my name, but because the Scripture said, “deny yourself”, I wouldn't tell them my name.  So they took me to be mentally evaluated and then put me in the state mental hospital. (for two weeks).  I was put in the worst wing and with the help of the Lord made it through those tough days. 


Saya berpikir secara harafiah untuk mengangkut salib. Yang mana itu benar saya lakukan! Saya tidak ingin melakukannya tapi karena saya tidak mengerti apa maksudnya, saya rasa saya harus melakukannya. Yang saya tahu Jesus adalah orang terpenting dalam hidup saya dan saya akan melakukan apapun itu untuk mengikutiNya. Jadi saya membuat salib dari tongkat berjalan adik saya dan membawanya di punggung saya menyusuri jalan di kota kecil yang baru saya tiba. Tak berkata apa-apa, seorang tetangga memanggil polisi dan saya ditahan dan dibawa ke kantor polisi. Di kantor polisi mereka menanyakan nama saya tapi karena Alkitab berkata “Sangkal diri anda”, maka saya tidak mengatakan nama saya. Jadi mereka membawa saya untuk evaluasi mental dan menaruh saya di rumah sakit jiwa selama 2 minggu. Saya ditaruh di bagian yang terburuk dan dengan bantuan Tuhan saya berhasil melewati hari-hari sulit itu.
I was so new to everything and just out of a world of great darkness that I trusted no one.  When I read the Bible, all I would read was the red words that Jesus spoke.  I didn't trust anything else.  Isaiah 42:3:  He (God)  will not break a bent twig.  He will not put out a dimly burning flame.   He will be faithful and make everything right.    I was barely hanging on to life. 
Saya sangat baru terhadap semua hal dan baru saja keluar dari dunia kegelapan yang mana saya tidak mempercayai siapapun. Ketika saya baca alkitab, yang saya baca adalah kalimat merah yang dikatakan Yesus. Saya tidak mempercayai hal lainnya lagi. Yes 42:3 Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan hukum. Saya hampir gantung diri.
    Six months after returning home, after reading God’s Word on a daily basis, I went with my Mom to a women's Aglow meeting.  The woman that spoke asked if anyone would like prayer for anything. I thought, "Sure, I could use some prayer."  So, I walked up to the front (I was the only one) and the speaker came toward me with her hands outstretched, she hugged me and began to pray with the gift of tongues.  (This is another gift that the Holy Spirit gives to believers) I began to cry, then I began to sob, then I began to wail.  She was still hugging me and wouldn't let me go all I wanted to do was hold onto my stomach because it hurt so much from the pain.  The only thing I could do was wail.  Every breath coming out of me was an agonizing wail.  All the pain of the years of sexual abuse, and the betrayal of the one I thought had loved me.  It all came out that evening in that little town in South Carolina.  All the ladies gathered around me praying in tongues and waiting for the Lord to finish the work He was doing inside of me.  It went on for about 30 minutes and I was in so much pain all I could do was hold my stomach and cry very loudly.  Inside of myself, I was crying out to Jesus, knowing He was the Only One Who could get me out of the pain I was in, then, I felt something leave my body.  It was as if Candi had left my body.  (That is the only way I can describe it.)  Something left me!!!!   And in its place was a great peace.  I have never been the same since.  John 8:36:  If the Son therefore shall make you free, ye shall be free indeed.


Enam bulan kembali ke rumah, setelah membaca Alkitab setiap hari, saya pergi bersama ibu saya ke pertemuan wanita Aglow. Wanita itu bertanya apakah ada yang ingin didoakan untuk apapun?” Saya berpkir “Tentu, saya bisa menggunakan doa.” Lalu saya maju ke depan (Cuma saya seorang) dan pembicara itu mendatangi saya dengan tangan terbentang, dia memeluk saya dan mulai berdoa dengan bahasa roh. (Ini adalah berkat lainnya yang diberikan Roh Kudus kepada yang percaya). Saya mulai menangis, tersedu-sedun dan merata. Dia masih memeluk saya dan tidak melepaskan saya. Yang saya hanya ingin lakukan adalah memegang perut saya karena sangat sakit. Yang dapat saya lakukan hanyalah meratap. Setiap napas yang keluar hanyalah ratapan menyiksa. Segala kesakitan di tahun-tahun penyiksaan seksual dan pengkhianatan dari seseorang yang saya pikir mencintai saya. Semua itu keluar pada malam itu di kota kecil di Carolina Selatan. Semua wanita-wanita itu berdiri mengelilingi saya berdoa dalam bahasa roh dan menunggu Tuhan menyelesaikan pekerjaanNya di dalam saya. Ini berlangsung selama 30 menit dan saya merasa sangat kesakitan, yang dapat saya lakukan hanyalah memegang perut dan menangis sangat keras. Di dalam diri saya, saya menangis kepada Yesus, tahu bahwa Ia lah satu-satunya yang bisa mengeluarkan saya dari kesakitan yang saya alami, lalu saya merasa sesuatu keluar dari tubuh saya. Sesuatu meninggalkan saya!!! Dan sekarang saya damai dan saya tidak merasa sama lagi seperti dulu. Yoh 8:36 “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka."

Jesus set me free from lesbianism, witchcraft, drugs, and alcohol.  Never to return again.  I also am not on medicine anymore, for depression.  Jesus my Lord, has paid the price for my freedom and He has gently and faithfully healed my broken heart.  Through His Word and forgiveness, He has enabled me to forgive those who have wounded me.  Matthew 6:14-15:  If you forgive those who sin against you, your Heavenly Father will forgive you.  But if you refuse to forgive others, your Father will not forgive your sins.
Yesus telah membebaskan saya dari lesbian, sihir, narkoba dan alkohol. Saya tidak pernah lagi makan obat anti depresi. Yesus, Tuhanku telah membayar harga untuk kebebasan saya dan dengan lembut setia Ia menyembuhkan hati saya yang patah. Lewat perkataanNya dan pengampunanNya, Ia telah memampukan saya mengampuni siapapun itu yang telah melukai saya. Mat 6:14-15 Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu."


          Coming to the cross of Jesus as a broken person and asking for forgiveness has been what has changed my life the most.   I have come to know that His Arms are always wide open to me and He longs for me to come to Him on a daily basis.  When Jesus died on the cross, the old Brooke died too.  All of my sin was put upon Him.  He has forgiven me and He has taken my punishment.  When  Jesus rose from the dead, the new Brooke was given new life!!!!  I asked God to give me His Holy Spirit.  He has baptized me with His Spirit which has helped me to understand His Word.  His Holy Spirit continues to give me courage so that I am able to share Jesus with people.  I want to share His Love with the world!!! 
No one is too much of a sinner for His Tender Mercy.  Will you pray for Candi and Brent to come to know Jesus?  It has now been 13 years (in May 2009) since the Lord brought me unto Himself. 
Datang ke Salib Yesus sebagai orang yang patah dan minta pengampunan telah membuat hidup saya berubah total. Saya telah menyadari bahwa lenganNya terbuka lebar kepadaku dan Ia menginginkan aku datang kepadaNya setiap hari. Ketika Yesus mati di kayu salin, Brooke yang lama telah mati juga. Semua dosa saya telah ditanggungNya. Dia telah memeaafkan saya dan mengangkat hukuman saya. Ketika Yesus bangkit, Brooke yang baru diberikan kehidupan yang baru juga!!! Saya minta Tuhan memberikan saya Roh Kudus. Ia telah membaptis saya dengan RohNya yang membuat saya mengerti perkataanNya. Roh KudusNya terus menerus menyemangati saya sehingga saya bisa terus membagikan Yesus kepada orang lain. Saya ingin membagikan kasihNya dengan seluruh isi dunia!!!
Tidak ada seorangpun yang terlalu berdosa untuk mendapatkan pengampunanNya. Apakah kamu mau berdoa untuk Candi & Brent untuk mendapatkan Yesus. Sudah 13 tahun (sejak May 2009) lamanya semenjak Yesus membawa saya kepadaNya.

          My hope and desire is that others would come to know His Love, His Power, and His deliverance from strongholds of sin.  HE IS THE ONE WHO SETS PEOPLE FREE!!!!!! Praise the Name of the Lord Jesus!!!!!!!!!
Harapan saya agar orang lain dapat merasakan kasihNya, kekuatanNya dan kemampuanNya untuk mengangkat kita dari dosa. DIALAH SATU-SATUNYA YANG DAPAT MEMBEBASKAN ORANG BERDOSA!!!!! Puji nama Tuhan Yesus!!!!

           God doesn't have any favorites, His heart is that all men would come to know His Love.  You may have read this story and maybe you have never given your heart and life to Jesus.  Maybe you have experienced some of the same pain that I have.  If you would like Jesus to fill your heart and life you can pray this prayer, and He will.  The secret to the effectiveness of this prayer is that you pray it with all of your heart.
Tuhan tidak memiliki favorite manapun. HatiNya adalah untuk semua orang yang datang untuk mendapatkan cintaNya. Kamu dapat membaca kisah ini dan mungkin kamu tidak akan memberikan hati dan hidupmu untuk Yesus. Mungkin anda mengalami kesakitan yang seperti saya alami. Kalau anda ingin Yesus mengisi hati dan hidup anda, anda dapat berdoa seperti ini, dan Ia akan datang, Rahasia keefektifan doa ini adalah anda berdoa dengan segenap hati.

      Thank You Jesus, for Your willingness to come to earth even though You knew that men would reject You and kill You.  Thank You, for giving all that You are for me.  Thank You for laying down Your Life on the cross for me, a sinner.  Thank You, Father, for raising up Jesus from the dead.  Father, I have sinned against You and against others, I have gone my own way.  But now, Father God, I lay my life down at Your feet.  I ask that You would take my broken heart and life and give me a brand new one.  I ask that You would forgive me for sinning against You and wash all of my sins away with Your Blood that You shed.  I ask that You would come and live inside of Me.  You are welcome in my heart.  I ask Lord, that You would give me strength to lay down the sins that I have held onto.  I believe that You, Jesus, are the Son of God  and I surrender my all to you.  I ask You to be my Lord and Savior, Thank You for giving Your Life in exchange for mine.  In Jesus' Name, Amen.
Terima kasih Yesus untuk kerelaanMu datang ke bumi walaupun Engkau tahu manusia akan menolak dan membunuhMu. Terima kasih telah memberikan diriMu kepadaku. Terima kasih telah mengorbankan hidupMu di kayu salib untuk pendosa seperti aku. Terima kasih Bapa, telah membangkitkan Yesus dari kematian. Bapa saya telah berdosa padaMu dan pada yang lainnya, saya memilih cara saya sendiri. Tapi sekarang Bapa, saya serahkan hidup saya ke dalam tanganMu. Saya memintaMu mengambil hati saya yang patah dan memberikan hati yang baru. Saya mohon Engkau mau memaafkan saya yang berdosa melawanMu dan membersihkan dosa saya dengan darahMu. Saya memintaMu untuk datang dan hidup di hati saya. Saya minta Tuhan memberikan kekuatan untuk menyerahkan segala dosa saya. Saya percaya bahwa Tuhan Yesus, sebagai Anak Allah dan saya menyerahkan kehidupan saya sepenuhnya. Saya memintaMu menjadi Allah dan penyelamat saya. Terima kasih yesus telah memberikan hidupMu untuk ditukar dengan kehidupan saya. Dalam nama Tuhan Yesus, Amin.

    If you prayed this prayer, you are now one of God's children!!!!!  Praise the
Lord!!!!  The Bible says that the angels rejoice in heaven over one sinner
that repents.  There are a few important things you need to do now.
   
1.  Tell someone that you believe in Jesus.

2.  Ask the Lord to put you in the right church.  (You want one that teaches from
         the Bible.) 

3.  Get a Bible that you can read and understand and find a Bible study group. 
         You want to surround yourself with other believers who will encourage
         you as well as hold you accountable.

4.  When you begin to read your Bible, look for the Character of God as
         you read....remember you have just begun the most awesome relationship
         of your life!!!!

Here is a personal note:  I began reading the Bible in the book of John—
Love, Brooke  
Jika anda telah berdoa seperti ini, anda adalah Anak Allah sekarang!!! Puji Tuhan!! Alkitab berkata malaikat di surga bersorak karena satu pendosa bertobat!! Sekarang ada beberapa hal yang patut anda ketahui:
  1. Katakan pada seseorang bahwa anda mempercayai Yesus.
  2. Minta pada Tuhan untuk meletakkan anda di gereja yang benar (gereja yang mengajarkan Kitab Suci)
  3. Ambil Alkitab yang dapat kamu pahami dan cari grup pendalaman Alkitab. Anda perlu mengelilingi diri anda dengan orang percaya lainnya yang akan menyemangati anda dan memegang anda.
  4. Ketika anda mulai membaca alkitab cari Karakter Yesus..Ingat anda mulai membangun hubungan yang indah dlm hidup anda!!!!
Catatan kecil: Saya mulai membaca kitab Yohanes dalam Alkitab.
Dengan kasih
Brooke